materi pelajaran kelas X semester 2 HASUD, RIYA, DAN ANIAYA
HASUD, RIYA, DAN ANIAYA
A. PEMBELAJARAN
Standar kompetensi
Menghindari perilaku tercela
Kompetensi dasar.
1. Menjelaskan pengertian hasad, riya, aniaya dan diskriminasi
2. Menyebutkan contoh perilaku hasad, riya, aniaya dan diskriminasi
3. Menghindari hasad, riya, aniaya dan diskriminasi dalam kehidupan sehari-hari
Pengalaman belajar.
1. Mendisikusikan dengan kelompok tentang sifat hasud, riya, dan aniaya.
2. Membaca dan mempelajari Q.S An Nisa 32 dan 45, Q.S Al Baqarah 229, 35, dan 254, Q.S An Nisa 9 dan 30, Q.S Al Hujurat 11, Q.S Yunus 13, Q.S Al Maidah 39.
3. membiasakan diri berperilaku menghindari perbuatan hasud, riya' dan aniaya
Materi
1. Sifat hasud.
2. Sifat riya’
3. Sifat aniaya.
Alokasi waktu : 2 x 45 menit
1. Hasud
Salah
satu penyakit hati yang sangat besar adalah hasud. Hasud ( dengki )
adalah sikap batin tidak senang terhadap kenikmatan yang diperoleh orang
lain dan berusaha untuk menghilangkannya dari orang tersebut. Imam
Ghazali mengatakan bahwa hasud itu adalah cabang dari syuh ( الشخ) yaitu sikap batin yang bakhil berbuat baik.
Rasulullah
saw menggambarkan betapa tercelanya kedengkian itu dengan sabdanya:
”Kedengkian memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar”(HR.Ibnu
Majah dari Anas) Ketika seseorang mengharapkan lenyapnya nikmat dari
orang yang didengki maka saat itu ia telah berlaku hasad, karena
sesungguhnya kedengkian adalah membenci nikmat dan menginginkan
lenyapnya nikmat itu dari orang yang mendapatkannya.
Pantaslah
jika Rasulullah saw pernah menyebut seseorang sebagai penghuni surga
akan lewat di depan sahabat-sahabatnya, yang ketika kejadian itu
berulang tiga kali dalam tiga hari Rasulullah menyebutnya sebagai
seorang dari penghuni surga, dan ketika ditelusuri oleh Abdullah bin
Amer bin al-Ash dengan bermalam di rumah orang tersebut selama tiga
malam, ia tidak pernah melihat amalan orang tersebut yang berlebihan,
bahkan orang itu juga tidak bangun malam, kecuali jika berbalik dari
tempat tidurnya ia menyebut Allah, ia tidak bangun kecuali untuk shalat
subuh, dan tidak pernah mendengarnya berkata kecuali kebaikan.
Bahkan
hampir saja Abdullah meremehkan amalannya. Ketika Abdullah mengatakan
bahwa sesungguhnya Rasulullah telah bersabda begini dan begitu, kemudian
ia bertanya : ”Apakah gerangan yang membuatmu mencapai tingkatan
tersebut?"
Orang
tersebut menjawab: ”Tidak ada apa-apa kecuali yang kamu lihat, hanya
saja aku tidak punya rasa benci dan dengki kepada salah seorang pun dari
kaum muslimin yang dikaruniai Allah kebaikan”.
Di
sinilah Abdullah menemukan jawaban itu, ia berkata :”Itulah rupanya
yang membuatmu mencapai tingkatan itu, dan itulah yang tidak mampu kami
lakukan”.
Demikianlah
nikmatnya jika kita dapat menghidarkan diri dari berlaku hasad pada
orang lain yakni surga, yang sesungguhnya terlihat sangatlah sepele
persoalannya meskipun sesungguhnya berat dalam pengamalannya.
Cukuplah
menjadi renungan kita bersama bahwasanya penyebab pembunuhan pertama
kali di muka bumi ini terjadi yaitu anak Adam membunuh saudaranya adalah
disebabkan oleh kedengkiannya pada saudaranya atas nikmat yang
dimilikinya lalu kita bertanya masihkah kita harus mendengki?
Rasulullah bersabda:
ولا تحاسدوا ولاتقاطعوا ولاتباغضوا ولاتدابروا وكونوا عبادالله إخوانا كما أمركم الله ( رواه البخري ومسلم )
Artinya :
Janganlah
kamu sekalian saling mendengki, membenci, dan saling
belakang-membelakangi; tetapi jadilah kamu hamba Allah yang bersaudara
sebagaimana yang telah diperintahkan Allah kepadamu ( H.R Bukhari dan Muslim )
Setiap
muslim/muslimah wajib hukumnya menjauhi sifat hasud karena hasud
termasuk sifat tercela dan merupakan perbuatan dosa. Simaklah QS. An
Nisa' [4]: 32
![]() |
Artinya:
“Dan
janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada
sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi
orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan
bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan
mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha
Mengetahui segala sesuatu.”
Bahaya hasud :
1) Merusak iman orang yang hasud.
الحسد يفسد الايمان كما يفسد الصبر العسل ( رواه الديلم )
Artinya :
Hasud itu dapat merusak iman sebagaimana jadam merusak madu (H.R Ad Dailami)
2) Menghanguskan segala macam kebaikan yang perah dilakukan.
إياكم والحسد فان الحسد يأكل الحسنات كما تأكل النارالحطب ( رواه ابو داود )
Artinya :
Jauhilah darimu dari hasud karena sesungguhnya hasud itu memakan kebaikan-kebaikan seperti api memakan kayu bakar. ( H.R Abu Dawud )
3) Tersiksa
batinnya untuk selama-lamanya, sebab di dunia ini tidak sepi dari
orang-otang yang mendapat nikmat dari Allah baik berupa ilmu, pangkat,
atau harta benda sementara dia selalu diliputi rasa dengki terus
menerus.
Ada 2 macam hasud yang dibolehkn, Rasulullah bersabda
لاحسد إلا فى اثنين: رجل أتاه الله مالا فسلطه على هلكته فى الحق ورجل أتاه الله الحكمة فهو يقضي بها ويعلمها ( رواه البخري )
Artinya :
Tidak
boleh iri hati kecuali dalam 2 hal : 1. Seorang yang diberi oleh Allah
SWT harta kekayaan maka dipergunakan untuk mempertahankan hak (
kebenaran ) dan 2. Seorang yang diberi Allah SWT ilmu hikmah, maka ia
pergunakan dan ia ajarkan. ( H.R Bukhari )
2. Riya’
Menurut
bahasa artinya pamer, sedang menurut istilah yaitu memperlihatkan suatu
ibadah dan amal shalih kepada orang lain, bukan karena Allah tetapi
karena sesuatu selain Allah. Sedang memperdengarkan ucapan tentang
ibadah dan amal salehnya kepada orang lain disebut sum'ah (ingin didengar).
Riya'
dan sum'ah merupakan perbuatan tercela dan merupakan syirik kecil yang
hukumnya haram. Riya’ sebagai salah satu sifat orang munafik yang
seharusnya dijauhi oleh orang mukmin. Simak QS. An Nisa' [4] 142!
![]() |
Artinya :
Sesungguhnya
orang-rang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan
mereka. Dan jika mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan
malas, mereka bermaksud riya’ ( dengan shalat itu ) dihadapan manusia,
dan tidaklah mereka dzkiri kepada Allah kecuali sedikit sekali.
Dalam
sebuah hadis, Rasulullah bercerita, ''Di hari kiamat nanti ada orang
yang mati syahid diperintahkan oleh Allah untuk masuk ke neraka. Lalu
orang itu melakukan protes, 'Wahai Tuhanku, aku ini telah mati syahid
dalam perjuangan membela agama-Mu, mengapa aku dimasukkan ke neraka?'
Allah menjawab, 'Kamu berdusta dalam berjuang. Kamu hanya ingin
mendapatkan pujian dari orang lain, agar dirimu dikatakan sebagai
pemberani.
Dan,
apabila pujian itu telah dikatakan oleh mereka, maka itulah sebagai
balasan dari perjuanganmu'.'' Orang yang berjuang atau beribadah demi
sesuatu yang bukan ikhlas karena Allah SWT, dalam agama disebut riya.
Sepintas, sifat riya merupakan perkara yang sepele, namun akibatnya
sangat fatal. Sifat riya dapat memberangus seluruh amal kebaikan,
bagaikan air hujan yang menimpa debu di atas bebatuan.
Allah SWT berfirman QS. Al-Furqan [25] : 23
![]() |
Artinya:
''Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan.''
Abu Hurairah RA juga pernah mendengar Rasulullah bersabda, ''Banyak
orang yang berpuasa, namun tidak memperoleh sesuatu dari puasanya itu
kecuali lapar dan dahaga, dan banyak pula orang yang melakukan shalat
malam yang tidak mendapatkan apa-apa kecuali tidak tidur semalaman.''
Begitu
dahsyatnya penyakit riya ini, hingga ada seseorang yang bertanya kepada
Rasulullah, ''Apakah keselamatan itu?'' Jawab Rasulullah, ''Apabila
kamu tidak menipu Allah.'' Orang tersebut bertanya lagi, ''Bagaimana
menipu Allah itu?'' Rasulullah menjawab, ''Apabila kamu melakukan suatu
amal yang telah diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya kepadamu, maka
kamu menghendaki amal itu untuk selain Allah.''
Meskipun
riya sangat berbahaya, tidak sedikit di antara kita yang teperdaya oleh
penyakit hati ini. Kini tidak mudah untuk menemukan orang yang
benar-benar ikhlas beribadah kepada Allah tanpa adanya pamrih dari
manusia atau tujuan lainnya, baik dalam masalah ibadah, muamalah,
ataupun perjuangan. Meskipun kadarnya berbeda-beda antara satu dan
lainnya, tujuannya tetap sama: ingin menunjukkan amaliyahnya, ibadah,
dan segala aktivitasnya di hadapan manusia.
Secara
tegas Rasulullah pernah bersabda, ''Takutlah kamu kepada syirik
kecil.'' Para shahabat bertanya, ''Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud
dengan syirik kecil?'' Rasulullah berkata, ''Yaitu sifat riya. Kelak di
hari pembalasan, Allah mengatakan kepada mereka yang memiliki sifat
riya, 'pergilah kalian kepada mereka, di mana kalian pernah
memperlihatkan amal kalian kepada mereka semasa di dunia. Lihatlah
apakah kalian memperoleh imbalan pahala dari mereka'
Tanda-tanda riya’
Tanda-tanda
penyakit hati ini pernah dinyatakan oleh Ali bin Abi Thalib. Kata
beliau, ''Orang yang riya itu memiliki tiga ciri, yaitu malas beramal ketika sendirian dan giat beramal ketika berada di tengah-tengah orang ramai, menambah amaliyahnya ketika dirinya dipuji, dan mengurangi amaliyahnya ketika dirinya dicela.''
Bahaya riya’ :
1. Ketidakpuasan, sakit hati, dan penyesalan ketika orang lain tidak menghargainya.
2. Mengungkit-ungkit kebaikannya sendiri yang pernah dipersembahkan kepada orang lain.
3. Tidak dapat bersungguh-sungguh dalam beribadah kepada Allah maupun berinteraksi dengan sesama manusia.
4. Di akhirat akan dicampakkan ke dalam api neraka.
3. Aniaya (adh-Dhulm)
Kata “adh-dhulm” berasal dari fi’l (kata kerja) “dhalama - yadhlimu” yang berarti “Menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya”. Dalam hal ini sepadan dengan kata “al-Jawr”.
Demikian juga definisi yang dinukil oleh Syaikh Ibnu Rajab dari kebanyakan para ulama. Dalam hal ini, ia adalah lawan dari kata al-‘Adl (keadilan).
Dengan demikian yang dimaksud dengan aniaya (dhulm)
adalah meletakkan, menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya atau tidak
sesuai dengan ketentuan Allah. Siapakah orang yang dhalim itu? Q.S Al
Baqarah [2]: 229 menjawab :
![]() |
Artinya :
“…Barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah, maka mereka itulah orang-orang yang dhalim.”
Dari
Ibnu ‘Umar -radhiallaahu 'anhuma- dia berkata: Rasulullah Shallallâhu
'alaihi wasallam bersabda: “Kezhaliman adalah kegelapan (yang berlipat)
di hari Kiamat”. (Muttafaqun ‘alaih)
Dari
Jâbir bin ‘Abdillah bahwasanya Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam
bersabda: “berhati-hatilah terhadap kezhaliman, sebab kezhaliman adalah
kegelapan (yang berlipat) di hari Kiamat. Dan jauhilah
kebakhilan/kekikiran karena kekikiran itu telah mencelakakan umat
sebelum kamu”. (H.R.Muslim)
Hadits
diatas dan semisalnya merupakan dalil atas keharaman perbuatan zhalim
dan mencakup semua bentuk kezhaliman, yang paling besarnya adalah syirik
kepada Allah Ta’âla sebagaimana di dalam firman-Nya: “Sesungguhnya
syirik itu merupakan kedhaliman yang besar”.
Di dalam hadits Qudsiy, Allah Ta’âla berfirman: “Wahai hamba-hambaku! Sesungguhnya Aku mengharamkan kezhaliman terhadap diriku dan menjadikannya diharamkan antara kalian”.
Ayat-ayat
dan hadits-hadits serta atsar-atsar tentang keharaman perbuatan dhalim
dan penjelasan tentang keburukannya banyak sekali. Oleh karena itu,
hadits diatas memperingatkan manusia dari perbuatan zhalim,
memerintahkan mereka agar menghindari dan menjauhinya karena akibatnya
amat berbahaya, yaitu ia akan menjadi kegelapan yang berlipat di hari
Kiamat kelak.
Ketika
itu, kaum Mukminin berjalan dengan dipancari oleh sinar keimanan
sembari berkata: “Wahai Rabb kami! Sempurnakanlah cahaya bagi kami”.
Sedangkan orang-orang yang berbuat zhalim terhadap Rabb mereka dengan
perbuatan syirik, terhadap diri mereka dengan perbuatan-perbuatan
maksiat atau terhadap selain mereka dengan bertindak sewenang-wenang
terhadap darah, harta atau kehormatan mereka; maka mereka itu akan
berjalan di tengah kegelapan yang teramat sangat sehingga tidak dapat
melihat arah jalan sama sekali.
Klasifikasi Kezhaliman
Syaikh Ibn Rajab berkata: “Kezhaliman terbagi kepada dua jenis: Pertama,
kezhaliman seorang hamba terhadap diri sendiri; Bentuk paling besar dan
berbahaya dari jenis ini adalah syirik sebab orang yang berbuat
kesyirikan menjadikan makhluk sederajat dengan Khaliq. Dengan demikian,
dia telah menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya. Jenis berikutnya
adalah perbuatan-perbuatan maksiat dengan berbagai macamnya; besar
maupun kecil.
Kedua, kezhaliman yang dilakukan oleh seorang hamba terhadap orang lain, baik terkait dengan jiwa, harta atau kehormatan.
Rasulullah
Shallallâhu 'alaihi wasallam telah bersabda ketika berkhuthbah di haji
Wada’ : “Sesungguhnya darah, harta dan kehormatan kalian diharamkan atas
kalian sebagaimana keharaman hari kalian ini, di bulan haram kalian ini
dan di negeri (tanah) haram kalian ini”.
Di
dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhary dari Abu Hurairah dari
Nabi Shallallâhu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: “Barangsiapa yang
pernah terzhalimi oleh saudaranya, maka hendaklah memintakan penghalalan
(ma’af) atasnya sebelum kebaikan-kebaikannya (kelak) akan diambil
(dikurangi); Bila dia tidak memiliki kebaikan, maka kejelekan-kejelekan
saudaranya tersebut akan diambil lantas dilimpahkan (diberikan)
kepadanya”.
Penyebab terjadinya
Ibnu
al-Jauziy menyatakan: “kedhaliman mengandung dua kemaksiatan: mengambil
milik orang lain tanpa hak, dan menentang Rabb dengan melanggar
ajaran-Nya… Ia juga terjadi akibat kegelapan hati seseorang sebab bila
hatinya dipenuhi oleh cahaya hidayah tentu akan mudah mengambil i’tibar
(pelajaran)”.
Penyebab kedhaliman juga
dapat dikembalikan kepada definisinya sendiri, yaitu tidak menempatkan
sesuatu pada tempatnya. Dan hal ini terjadi akibat kurangnya pemahaman
terhadap ajaran agama sehingga tidak mengetahui bahwa :
§ Hal itu amat dilarang bahkan diharamkan
§ Ketidakadilan akan menyebabkan adanya pihak yang terzhalimi
§ Orang
yang memiliki sifat sombong dan angkuh akan menyepelekan dan
merendahkan orang lain serta tidak peduli dengan hak atau perasaannya
§ Orang
yang memiliki sifat serakah selalu merasa tidak puas dengan apa yang
dimilikinya sehingga membuatnya lupa diri dan mengambil sesuatu yang
bukan haknya
§ Orang
yang memiliki sifat iri dan dengki selalu bercita-cita agar kenikmatan
yang dirasakan oleh orang lain segera berakhir atau mencari celah-celah
bagaimana menjatuhkan harga diri orang yang didengkinya tersebut dengan
cara apapun
Terapinya
§ Mencari sebab hidayah sehingga hatinya tidak gelap lagi dan mudah mengambil pelajaran.
§ Mengetahui bahaya dan akibat dari perbuatan tersebut baik di dunia maupun di akhirat dengan belajar ilmu agama
§ Meminta
ma’af dan penghalalan kepada orang yang bersangkutan selagi masih
hidup, bila hal ini tidak menimbulkan akibat yang lebih fatal seperti
dia akan lebih marah dan tidak pernah mau menerima, dst. Maka sebagai
gantinya, menurut ulama, adalah dengan mendoakan kebaikan untuknya
§ Membaca
riwayat-riwayat hidup dari orang-orang yang berbuat zhalim sebagai
pelajaran dan i’tibar sebab kebanyakan kisah-kisah, terutama di dalam
al-Qur’an yang harus kita ambil pelajarannya adalah mereka yang berbuat
zhalim, baik terhadap dirinya sendiri atau terhadap orang lain.
4. Diskriminasi
Diskriminasi
adalah istilah populer yang seringkali kita dengar seiring dengan
gencarnya istilah demokrasi disebut. Diskriminasi bermakna perbedaan
warna kulit; perbedaan perlakuan terhadap sesama warga negara karena
perbedaan warna kulit. Awal munculnya istilah ini memang dari adanya
pembedaan perlakuan terhadap sesama warga negara atas dasar warna kulit.
Ada kelompok warga berwarna kulit hitam dan putih.
Istilah
deskriminasi kemudian meluas maknanya kepada segala bentuk pembedaan
atas warga negara atas dasar suku bangsa dan ras antar negara (SARA).
Islam
sangat mengecam perbuatan diskriminatif. Islam tidak memandang
kemuliaan seseorang atas dasar penampakan lahiriyah dan segala unsur
SARA. Memang kemajemukan umat adalah hal yang sangat wajar dan
semestinya. Kemajemukan bukan untuk diperselisihkan atau
dipertentangkan, karena memang kemajemukan ini adalah takdir Allah SWT.
Kemajemukan
seyogyanya dijadikan media untuk saling mengenal, memahami dan
mempelajari agar tampak mana siapa yang paling bertaqwa di sisi Allah
SWT. Agar kita mampu menghindari sikap deskriminatif tersebut, sebaiknya
kita mengambil hikmah dari firman Allah SWT dalam QS. Al Hujurat [49] :
10-13
![]() | |||
![]() |
Artinya :
10.
Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah
(perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap
Allah, supaya kamu mendapat rahmat.
11.
Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki
merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih
baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan
kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan
janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan
gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah
(panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat,
maka mereka itulah orang-orang yang zalim.
12.
Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka
(kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah
mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama
lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya
yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan
bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi
Maha Penyayang.
13.
Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki
dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan
bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang
paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa
diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.
Berdasarkan ayat-ayat di atas, kita bisa mengambil pelajaran untuk menghindari sikap diskriminatif sebagai berikut:
1. Sesama orang yang beriman dan beragama Islam adalah saudara yang saling menyayangi dan menghormati.
2. Yang membedakan mereka di sisi Allah adalah kualitas ketaqwaan mereka.
3. Oleh karena itu kita dilarang untuk:
§ Saling merendahkan
§ Saling mencela
§ Saling memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan
§ Saling berperasangka jelek (saling curiga)
§ Saling mencari-cari kejelekan orang lain
§ Saling menggunjingkan
4. Keragaman ciptaan, bangsa dan suku adalah sesuatu yang wajar dan niscaya.
5. Allah tidak melihat kemuliaan seseorang dari penampilan luar.
6. Sesungguhnya orang yang paling mulia disisi Allah ialah orang yang paling taqwa.
7. Allah paling tahu siapa yang paling bertaqwa dan siapa yang hanya berpura-pura bertaqwa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar